Sabtu, 17 September 2011

Negara penuh "korupsi"



Sambil kelakar, biasanya sering terucap: "banyak aturan, banyak pelanggaran  - tidak ada aturan, tidak ada pelanggaran"
Tapi kita tentu sepakat, kalau tidak ada aturan-walau tidak terjadi pelanggaran- ya kacaulah.

Bagaimanakah di negara kita untuk kasus "korupsi"?

Per definisi korupsi - salah satunya-  adalah: "memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi".
Kenyataan  ini menjadikan  kondisi sangat rentan, "memungkinkan" satu pihak untuk membidik "target" dengan tuduhan korupsi.
Calon target tsb tentulah para pemegang tampuk pimpinan, mulai dari para ceo perusahaan plat merah, kalangan kepala pemerintahan daerah sampai pusat. Dan ingat, dari pengamatan, yang dituduh korupsi itu "tidak" selalu  sebagai penikmat hasil korupsi tsb (Penikmatna mah teuing kabur kamana boa....)

Menyimak  berbagai kejadian yang terus saling susul menyusul di negara kita ini, bidik membidik target ini tengah berlangsung.
Bayangkan saja, "teu gugur teu angin" - tiba-tiba seorang staf khusus yang ngurus penanggulangan bencana dan bantuan sosial bicara masalah L/C fiktif? Apa gak ada kegiatan lain? Ah masa.... Sementara penanganan korban bencana masih banyak bolongnya, yang seharusnya jadi concern ybs (ah, mungkin kebetulan liwat saja...).

Maksudku  hanya ingin menyampaikan bahwa bukan tidak mungkin semua "calon target" tadi sudah di-list up sebagai "koruptor". Hanya kemudian tinggal dilihat, mana yang "sedikit nakal", macam-macam, neko-neko, dikeluarkan dari daftar untuk di-"eksekusi".
Sekarang giliran partai ini, nanti-nanti partai itu dan seterusnya. Jadi walau orang bilang "Belanda masih jauh",  tunggulah pada saatnya tiba tahun 2014, partai-partai semuanya sudah tercoreng "tidak bersih". Mau bilang apa, hayoo....?

Jadi hati-hati saja dulurs (negara kita ini ada yang salah kayknya), mending kalakuan bersih, hidup bahagia dan mulia, mati pun masuk sorga
(haha..................... uenak tenannnnnnnnnnnnnn)

--
Yadi Supriadi Wendy

Malu Aku Punya Negara Penuh Koruptor

Mungkin diantara pembaca sekalian pernah atau sering membaca lelucon dibawah ini :
Seorang pejabat Indonesia mengunjungi rekannya di Cina. Saat tiba, beliau dijamu, dihibur, dan kemudian diajak ke rumah megah milik sang pejabat Cina. Saat ngobrol-ngobrol, pejabat Indonesia tersebu iseng-iseng bertanya, “Wah, kamu pegawai negeri,tapi kok bisa sampai punya rumah megah begini, yah?” Sang pejabat Cina senyum-senyum lalu mengajak sang pejabat Indonesia ke dekat jendela lalu menunjuk keluar. “Kamu lihat itu jembatan besar di sebelah sana?” tanyanya. Pejabat Indonesia mengangguk. “Nah, itu sepuluh persen,” kata sang pejabat Cina sambil mengedipkan mata dan menepuk dada. Pejabat Indonesia mengangguk, mengerti bahwa 10% dana pembangunan jembatan lari ke kantong pejabat Cina ini. Minggu depannya giliran sang pejabat Cina yang mengunjungi koleganya di Indonesia. Setelah dijamu dan dihibur, sang pejabat Cina dibawa ke tempat tinggal pejabat Indonesia. Betapa terkesannya sang pejabat Cina ketika melihat tempat tinggal pejabat Indonesia yang bagaikan istana raja saja: villa megah lengkap dengan kolam, pancuran, lapangan tenis, helipad, dan lapangan golf pribadi, semua berlapis emas. “Wah, kamu juga pejabat negeri, tapi lebih hebat yah -rumah kamu seperti istana begini. Jauh lebih megah dibanding rumah saya,” komentar pejabat Cina. Sang tuan rumah mengajak tamunya ke jendela. Ia menunjuk keluar, sambil berkata, “Kamu lihat itu bendungan di sebelah sana?” Sang pejabat Cina mencari-cari ke arah tunjukkan, tapi tidak melihat adanya bendungan, “Mana, nggak ada bendungan, tuh …” Pejabat Indonesia mengedipkan mata sambil menepuk dada, “Nah, itu seratus persen….”
Dalam sebuah kegiatan bertaraf ASIA seorang teman dari sebuah negara daratan Asia menceritakan lelucon itu dengan sangat fasih dalam bahasa inggris. setela menceritakan lelucon itu kepada peserta lain termasuk saya, teman saya tersebut berkata,
” Sesungguhnya Indonesia itu cantik, indah, orang-orangnya ramah dan baik hati, tapi mengapa korupsinya juga masuk lima besar di duniaa”.
Plaaak.. rasanya saya ditampar habis muka saya.. sebuah lelucon yang saya kira hanya beredar di dalam negeri juga didengar oleh teman yang bertampat tinggal di Himalaya sana.
Korupsi telah merugikan negara, menghisap kekayaan negara untuk kepentingan pribadi, dan juga merusak nama baik negeri ini, hingga ke pelosok negeri.

Korupsi dan Disintegrasi



Seperti halnya kejujuran dan kematian, dua hal yang semula tidak berhubungan bisa menjadi berhubungan. Maka korupsi dan disintegrasi demikian juga, semula tidak berhubungan bisa menjadi berhubungan. Dan hubungan tersebut lebih pada sebab akibat, walaupun bukan sebab mutlak atau satu-satunya sebab. Bisa juga sebab yang bersifat pemicu.
Korupsi dan disintegrasi bisa berhubungan, jika setelah korupnas (korupsi tingkat nasional) yang terus menerus menimbulkan rasa :
1. iri
Tentunya pada daerah yang rawan disintegrasi. Isu korupsi yang hangat dengan jumlah puluhan milyar atau bahkan hitungan trilyun cukup menimbulkan rasa iri. Dimana rakyat mencari rejeki dengan jerih payah, makan saja susah, dihadapkan pada korupsi dengan jumlah yang sangat wah : menimbulkan iri itu wajar.
Sebagai daerah yang merasa sejarahnya mempunyai status bergabung, maka rasa iri pada rakyat itu jika berakumulasi menjadi satu kumpulan besar, maka mengusik disintegrasi.
2. sakit hati
Selain iri, sakit hati juga bisa terjadi karena adanya korupsi. Tentunya pada daerah yang rawan disintegrasi.
Merasa sebagai daerah yang bergabung kemudian membentuk sebuah negara, dan negara tersebut hanya dipenuhi dengan korupsi dan terus korupsi, tentu bikin sakit hati.
Kenapa bergabung membentuk negara yang kemudian menjadi negara bobrok penuh korupsi. Maka bisa memunculkan pemikiran lebih memilih memisahkan diri.
3. benci
Rasa benci juga wajar terjadi. Apalagi jika daerah rawan disintegrasi merasa tidak mendapat perhatian dari negara dan pemerintahan. Tetapi lebih terkonsentrasi pada hal-hal yang ujung-ujungnya korupsi. Maka daerah rawan disintegrasi tidak lagi melihat pada pelaku-pelaku korupsi, tetapi pada negaranya yang di dalam penuh dengan korupsi.
Intinya adalah ketidakpuasan. Apalagi jika ditambah dengan ketidakadilan antara daerah rawan disintegrasi dibandingkan dengan daerah-daerah lain.
Demikian gambaran umum dan menyeluruh mengenai hubungan antara korupsi dan disintegrasi yang bisa terjadi pada suatu negara.
Korupsi bisa membahayakan keutuhan negara dan bangsa. Setingkat dengan subversi yang merongrong kesatuan dan persatuan.
Karena itu jika suatu negara tidak ingin terusik disintegrasi, maka bongkar dan berantas korupsi, dari korupda (korupsi tingkat daerah) sampai korupnas (korupsi tingkat nasional).
Walaupun belum tentu negara hasil disintegrasi bisa bebas dari korupsi.
Dan belum tentu juga korupsi menjadi penyebab pokok disintegrasi. Tetapi korupsi bisa lebih mungkin menjadi pupuk yang semakin menyuburkan bibit-bibit disintegrasi.
*hanya pemikiran